Cerita Dewasa Curhatan Hati Teman Lama Berujung Nikmat

Cerita Dewasa Curhatan Hati Teman Lama Berujung Nikmat – Aku sudah berumur 36 tahun, menikah dan juga sudah mempunyai 3 anak, aku saat ini bekerja di bidang judi Bandar Bola, dan juga bertempat tinggal di Jakarta Selatan. Wajahku biasa saja, hitam manis kata istriku, tinggi badan sekitar 165 cm, rambut lurus cenderung tipis. Kehidupan seks-ku normal, bahkan bisa dikatakan aku memiliki nafsu seks yang tinggi.
Meskipun dengan istriku aku sudah mendapatkan kepuasan, namun sebagai pria normal, aku juga mempunyai fantasi untuk melakukan hubungan seks dengan wanita yang lain. Aku sangat terangsang pada jenis kutilang-dara (kurus tinggi langsing, dengan dada rata). Itulah gambaran tentang diriku. Menjelang Valentine day ini aku menjadi teringat dengan peristiwa 5 tahun silam, dan juga kucoba untuk menuangkannya dalam bentuk cerita dewasa.
Pertengahan tahun 2000/2001 aku mendapatkan tugas belajar di kota Surabaya. Surabaya sudah tidak asing bagiku karena aku dilahirkan dan juga dibesarkan disana. Aku putuskan untuk nge-kost karena tidak mau merepotkan saudara, lagian cuma 6 bulan saja. Baru 2 hari saja dan juga belum selesai membereskan baju dan juga buku2 yang kubawa, nafsu dan juga gairahku meningkat dan membutuhkan penyaluran, sampai akhirnya aku pun onani. ‘Gue tidak bisa begini terus…..’ pikirku di dalam hati.
Besoknya aku mencari beberapa no telp teman dekatku. Singkatnya aku mendapatkan nomor telepon seorang teman lamaku, sebut saja Linda, usia kami sama, menikah dan mempunyai 2 anak. Kami dulu sempat dekat, sering jalan bersama dan juga 1 kelompok ketika praktikum.
Linda adalah keturunan chinese, cukup tinggi untuk seorang wanita, kulitnya putih, dadanya juga rata. Awalnya cuma saling telepon, diskusi, dan juga makan-makan serta jalan barengan, sampai suatu ketika pertengahan maret) dia telepon (sepertinya habis menangis) ajak bertemu.

Curhatan Hati Teman Lama Berujung Nikmat

“Mas, bisa tidak datang ke rumahku, aku ingin cerita”.
‘Ok, sayang, sebentar ketemu di tempat biasa ya, jawabku.
Dengan mobil Lancer tahun 83’an aku meluncur untuk menemuinya, kemudian baru ke rumahnya. Di dalam perjalanan, kami mengobrol yang macam-macam mulai dari ilmiah, politik hingga dengan hal-hal yang jorok,
“Mas, kapan balik ke Jakarta?” dia tanya.
“Minggu depan, memang kenapa?” aku berbalik tanya.
“Tidak apa-apa sih cuma iseng saja”.
‘Kalau cuma iseng, jangan cuma tanya…. ….kerjain aku deh’, timpalku.
‘Hehehehe dasar ngeras, otaknya’
Tidak terasa kami sudah sampai ke rumahnya, Linda membuka pintu pagar rumahnya. terasnya kotor sekalii penuh dengan debu, seperti beberapa hari tidak disapu.
‘Kamu tinggal di sini?????’ tanyaku dengan heran.
“Kebangetan deh…….aku tidak tinggal di sini, ini rumah ortuku yang kemarin habis dikontrak, seminggu sekali aku akan tengok dan juga bersihkan”, jawabnya sambil masuk ke dalamnya.
Aku masukkan mobilku dan juga segera masuk rumah…
Meskipun terasnya kotor dengan debu, tetapi rumahnya tidak pengap…Cukup nyaman dan perabotannya terpelihara. Linda mempersilahkanku untuk duduk sementara dia menyapu teras depan.

‘Enak-enakin sendiri ya…..aku bersih-bersih sebentar’ katanya.
‘Gimana enak…… sudah gak disuguhi minum,…. Ditinggal sendiri lagi,’ sahutku
“Sudah ah, aku mandi dulu ya?”. Langsung saja otakku ngeres karena membayangkan tubuhnya di balik baju yang dikenakan
‘What’s the problem?’ tanyaku basa-basi, sambil pindah duduk ke sebelahnya. ‘Biasa, masalah keluarga’, katanya.
‘Is it about sex or what?’ Gue candain
‘Loe tetap saja kek dulu, sableng, and juga tidak jauh dari sana’…… tetapi ada benarnya sih …meskipun tidak langsung’, jawabnya.
Kemudian Linda pun cerita panjang lebar, intinya rasa tidak puas dengan sikap suami yang otoriter dan juga selalu menyalahkannya jika ada perselisihan dengan mertua.
“aku benar-benar capek, Bobie (suaminya) selalu berpihak dengan ibunya, padahal aku sudah berusaha netral jika mertua ngomel-ngomel”. Sambil terisak dia mengakhiri ceritanya.
Pada saat aku memegang tangannya, dan juga dia diam, malah bilang “boleh aku menyandar di dadamu?”. Aku mengangguk dan juga segera meraihnya serta membelai rambutnya dengan lembut. Kucium keningnya dengan perlahan, Linda tengadah dan juga berbisik lirih “Mas, aku butuh dukungan, kasih sayang dan juga belaian mesra”.
Ketika itu aku merasa terhanyut dengan situasi yang diciptakan olehnya, sehingga tanpa merasa canggung kucium matanya, hidungnya, Linda menggeliat sehingga bibir kami bertemu. Linda bangkit dan berkata lirih sambil memelukku, “hold me tight, im yours now”.

Aku cium kembali bibirnya dengan lembut, Linda merespon dan juga memagutku. Kami berpelukan seperti sepasang kekasih yang baru saja berjumpa setelah sekian lama berpisah dengan segudang kerinduan.
Dengan posisi Linda duduk di pangkuanku, tanganku bergerak meraba rambut dan juga lehernya, Linda melenguh, tangannya mencari dan juga mencoba meraih penis yang sudah tegang di balik celanaku. Tangan kananku kemudian bergerak dari perutnya ke arah pinggul, Linda bergeser turun dari pangkuanku dan menaikkan pahanya, otomatis dasternya terangkat, ternyata Linda tidak pake CD.
“mas, aku pingin,…bisiknya. Segera aku jilat memeknya yang merah muda indah dengan sedikit bulu panjang itu, aku basahin dan juga sibakkan bulu halusnya dengan lidahku sambil menyentuh clitorisnya.
‘Aaahhhh, …maasss…Akuuu…pingin, fuckkk me noow’… Tangannya berusaha untuk membuka celanaku dan juga menggenggam penisku.
‘Aku risih di sini’ aku merasa tidak enak karena masih berada di ruang tamu.
“kamar yuk’, katanya sambil berdiri dan juga mengunci ruang tamu dimana kami melakukan pemanasan.
‘Siapa takut…… ,dia tersenyum dan juga berjalan sambil membuka dasternya, aku mengikuti dari belakang, begitu indah tubuhnya…mulus seperti pualam.
Ruang tidur utamanya yang berukuran 5×6 m luas dan juga cukup mewah. Yang istimewa ialah adanya cermin besar sebesar 3X2,5 m di depan bed. Di depan cermin aku memeluk Linda yang dengan cekatan membuka kemeja dan celana serta CD-ku, sangat indah dan juga menggairahkan. Erotis sekali gerakan kami waktu dilihat dari cermin itu.
Penisku langsung mencuat kencang seolah kegirangan menemui kebebasannya. Aku puaskan semua dahaga-ku, kami saling meraba dan juga berciuman. Setelah sesaat saling meraba, Linda menghempaskan tubuhnya di tempat tidur yang sudah menanti. Kuteruskan aksiku yang terhenti tadi, hope that she will understand what I want. Look’s like she gets what i am thinking, Linda berbalik memposisikan diri menjadi posisi 69…. dia kulum penisku, yang langsung menegang ke ukuran tempurnya dengan diameter 3 dan juga panjang 16cm.

‘Aahhh… sekarang aku mendesah menikmati semua kuluman dan juga hisapan lembut Linda…‘Kamu jago sekali isapnya, Da’ kataku memujinya, sambil menghisap memeknya, yang sudah dibasahi oleh lendir gairah.
‘Oooohh,… masss… ayooooo…’ katanya bangkit dan juga jongkok di atas miniature monasku…….
Diraih dan juga diarahkan penisku ke liang memeknya, kemudian dia bergoyang naik turun menggigit bibirnya. aku meraih payudaranya yang kecil dan memerasnya dengan pelan, then Berselang 3menit Linda ingin aku menyetubuhinya… tampaknya Linda sudah mencapai orgasmenya ketika dia menunggangiku…
Aku membalik badannya dengan posisi penis yang masih tertanam. Linda membantu dengan membuka lebar2 memeknya.dengan mengangkat kedua pahanya ke atas.
Aku memajumundurkan penisku,
Mass…. ,mmmmmmhhh, ……Lebih dalam lagi……. Lebih keras……., dia meracau……….
“Ini sudah maksimal” kataku…..
Linda ketawa ….. sehingga otot vaginanya ikut berdenyut seirama dengan tawa……. ,
aku menarik tubuh Linda ke ujung tempat tidur, dan juga kutekan dalam-dalam penisku. Linda berteriak dengan histeris menikmati gaya permainanku, kedua tangannya menarik pinggulku seolah menahan penisku pada posisinya.
‘Da……. Aku mau sampai…’ belum sempat dia membalas aku mengeluarkan spermaku ke rahimnya… Sepertinya Linda juga sudah mencapai orgasmenya yang kedua pada saat itu. Kami bercanda dan juga bercengkrama di tempat tidur sesudah pertempuran tadi.
‘Tadi kamu kebangetan deh, gue tidak bisa menahan ketawa waktu loe bilang sudah maksimal’…….., ‘loe lah yang kebangetan’, timpalku sudah tau penisku cuma segitu malah suruh lebih dalam……,gara-gara kamu ketawa, aku jadi gak kuat nahan, habis memekmu juga ikutan ketawa timpalku…
‘Hehehehe siapa yang suruh loe nahan’, katanya. Sudah ah, mandi yok, katanya dengan manja sambil menciumku.
Setelah itu kami jadi semakin sering ketemu dan juga melakukan hubungan ML di tempat-tempat yang memungkinkan, sampai aku menyelesaikan tugasku di Bandar Casino

Leave a Reply